Alur Penyulut Api Karhutla di Sumsel, Siapa Bertanggungjawab? (1)

Helikopter waterbombing parkir di Lapangan Udara (Lanud) Sri Mulyono Herlambang yang bersebelahan dengan Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Sumsel, Senin (16/9/2019). (Antara)

Kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla di Sumatera Selatan terus berulang. Siapa yang bertanggungjawab?

SuaraSumsel. id kacau Tahun 2020 ini, memang jumlah titik panas kelanjutan kebakaran lahan dan hutan pada Sumatera Selatan tidak sebanyak 2019, apalagi pada 2015.

Badan Penanggulangan Bala Daerah (BPBD) Sumatera Selatan mencatat, titik panas pada tahun tersebut hanya 4. 434 kejadian berdasarkan pemantuan satelit landsat.

Jumlah titik panas yang lebih rendah dibandingkan Oktober 2019 yang menjadit puncak bercak api terbanyak tahun lalu.

Oktober itu terjadi 6. 537 titik panas, sedangkan di tahun 2015, titik panas terbanyak terjadi pada September yang mencapai 15. 995 bintik panas.

Tapi pengalaman selama lima tahun ini mampu memperlihatkan, pelaku pembakar lahan sulit dijerat guna bertanggungjawab.

Termasuk di antaranya pemilik lahan konsesi perkebunan sawit dan usaha kehutanan yang bebas melenggang dari jerat pengadilan.

Pantuan titik radang di Sumatera Selatan selama lima tahun terakhir [PRIMS BRG]

September maka Oktober kala itu menjadi catatan buruk bagi lingkungan di Sumatera Selatan.

Partikel asap bercampur dengan duli menghitamkan udara. Jarak pandang berkendara berkurang dan dada terasa penuh.

Di pertengahan Oktober, langit Sumatera Daksina terutama di Palembang kian bodoh akibat kabut asap.

Udara bercampur karbon hasil kebakaran hutan dan lahan mengubah langit menjadi sangat gelap. Jarak pandang sangat rendah, berkendara pun susah.